Sabtu, 07 Februari 2009

Aloeth : DARI BUMI PERJANJIAN

TER-RESTUI

Persada..

Adalah semusim bunga matahari

Melebur dalam rayumu

Tetap melangkah dalam kerasnya hati

Sejuta rasa kemenangan

Adalah Gelegar darah didada

Menggetarkan jiwa

Untuk bumi yang ter-restui penguasa lokal

Yang selalu bunyikan nada-nada seragam

Adakah perbedaan yang akan kita nyanyikan

Perjalanan Smg-Pati,160306


KEMERDEKAAN

Sepanjang waktu

Di jalan ini kita masih menyaksikan

Bendera setengah tiang

Kapankah bendera itu

Berkibar penuh dihati kita

Bila kemerdekaan

adalah bukan kata merdeka sesungguhnya

Pati, 190806



KEMARIN

Memiliki rencana besar

bekerja dalam segala perkara

belajar melalui pengalaman

mengukir indah nama mu

Namun Tersiram bara

Membutakan mata hati

Mengalami proses sakit

Menyerahkan segala kekuatiran

Pada ketidakjelasan

Kesia-siaan

Membangunkan tidurmu

Ternyata Mimpimu

lebih indah dari kau terjaga

Pati, 190806



SENANDUNG BUNGA DI HATI RAKYAT

Gemuruhmu tak meruntuhkan

semangat kami untuk tetap disini

gelegarmu tak lenyapkan suara-suara kami,

aku tetap disini

Tebarkan benih-benih cinta di hati rakyat

Biarkan bersemi

tumbuh mekar menjadi bunga-bunga kehidupan memberi semerbak keharuman,

hiruplah wanginya

Kuselipkan bunga ditelingamu

sebagai untaian pesona bertahtakan jingga dihati! Kusentuh dikau melati!

Senandungkan bunga di hati Rakyat.

Sekarjalak, 220606




PILIHKU MEMILIHMU

Andai kau pilihku memilihmu!

Apa yang akan kau berikan padaku

hingga membuat aku yakin memilihmu!

Dikau tawarkan janji

Rakyat akan meng-Amin-i,

Dikau ingkari janji

Rakyat akan menghakimi!

Sekarjalak, 220606



KOTAMU..

Kotamu pagi ini...

dihantam Roket-roket

memecah dingin pagi

Gedung pencakar langit

Menjadi puing-puing

Mereka sembunyi

Banyak yang mati Tak berdaya

Diperdaya kuasa

**

Genderang Perang bertalu

Kibarkan panji-panji Perjuangan

Demi bangsa atau Pertaruhan untung-rugi

Ya, Pertarungan ambisi penguasa

menancapkan kuku-kuku tajam

Melibas sebuah kota

Runtuhkan negerimu

Sekarjalak, 14806




JILBABMU BERLUMUR DARAH

Jilbabmu berlumur darah

Libanon..

Jilbabmu berlumur darah

Palestina..

Anak-anakmu berlari di bawah desingan peluru

Kembang api dari pecahan roket

Cekamkan pagimu

Libanon

Palestina

Jilbabmu berlumur darah

Sekarjalak, 12806



DARI BUMI PERJANJIAN

Di belahan bagian manakah

Kami bisa bersenandung

Membesarkan anak-anakku

Tanpa kau ganggu

Di belahan bagian manakah

Kami bisa bekerja

Mengajari anak-anakku

Tanpa kau takuti

Di belahan bagian manakah

Kami bisa menari

Melatih anak-anakku

Tanpa kau tekan

Di belahan bagian manakah

Bila bumi perjanjian

tlah kau porak-porandakan?

Sekarjalak, 9 Agustus 2006



BICARALAH..

Adakah malam ini menambah kecantikanmu

Bila bulan tak menampakkan diri

Bila bintang tak memberi kerlip

Bila kunang-kunang tak datang

Bicaralah..

Jangan dengan peluru

Adakah malam ini menambah keanggunanmu

Bila serangga malam tak bersuara

Bila angin tak membelai anak rambutmu

Bila dingin tak menyentuhmu

Bicaralah..

Jangan dengan peluru

Adakah malam ini menambah keindahanmu

Bila debu reruntuhan membuat pekat langitmu

Bila udara tanah airmu habis

Bila bau mesiu bercampur amis darah

Bicaralah..

Jangan dengan peluru

Adakah malam ini menambah pesonamu

Bila mereka meratapi kelemahan

Bila tak mampu menjabarkan toleransi

Bila Mereka letih

Bila Terkoyak

Bicaralah..

Jangan dengan peluru

Bicaralah..

Israel

Libanon

Hizbullah

Hamas

Fatah

Palestina

Kita sudahi saja perang ini

Apa yang akan kau cari?

Tak bisakah kita duduk bersama

Sembari minum teh di senja hari

Melihat sunset di pantai

Bersama karya agung sang Illahi

Bicaralah..

Dengan damai dihati

Sekarjalak, 100806



LELUHUR

Libanon

Masihkah bercerita

Masihkah meninggalkan syair-syair

Indah

Atau kemurungan jiwa

Ambal kematian negeri

Gibran..

Ini bumi leluhurmu

yang kau gambarkan

di tulisanmu

Gibran..

Di pusaramu

tangis anak-anakmu

Sekarjalak, 13806




KLANGUT #1

Rumah mungil

Pintu kan terbuka

Rindu Kata-kata suci sahabat dekat

menggenggam janji

dalam air jernih

Tiada bertepi api sejati

Kesucian terlindung

Sesubur bunga mawar ditamanmu

Sekarjalak, 26 Agustus 2006




KLANGUT #2

Diujung senja

Perahumu berlabuh di dermaga

Terpadamlah api

lautan emosi

Keyakinan nyata

di padang papa

di Jurang dusta

di lembah nista

Tersiksa dalam kepalsuan

permainan warna

Yang menyilaukan

Hinakah ?

Sekarjalak, 26 Agustus 2006



ANAK-ANAKMU TERKAPAR

Teriakmu tak meluluhkan hati mereka

Mereka tuli

Mereka buta

Mereka bisu

Tiga tusukan belati bersarang didadamu

Telinganya bising mendengar keluhmu

Matanya risih melihat pergerakanmu

Mulutnya ngilu tak mampu menghalau orasimu

Beringasnya mereka

Bahasa belati menusuk anak-anaknya sendiri

Bahasa preman menjajah bahasa akademik

Bahasa kekarasan tlah diajarkan di kampus

Bahasa intimidasi tlah melukai nurani anak negeri

Bahasa teror mencekamkan proses belajar

Sekarjalak, 28 Agustus 2006



SELAMAT JALAN KAWAN

Keranda hitam mengantarmu

Menuju kepada Sang Pembebas Sejati

Perjuanganmu

Pengabdianmu

Akan terus kami kenang kawan!!

Tabur bunga diatas pemakamanmu

Api pergerakan semakin tajam menyengat didada kami

Tanah merahmu

Menggenggam semangat kami

Untuk meneruskan suara-suaramu kawan!!

Sekarjalak, 28 Agustus 2006


DUKAMU MATARAM

Tangis mereka menghentak

Kaki-kaki kami

Jerit mereka menyayat

Hati kami

Rintih mereka memekakkan

Telinga kami

Demi ambisi

Satu lagi anakmu kau habisi

Di depan bangsamu sendiri

Dengan sebilah belati..

Sekarjalak, 28 Agustus 2006

Aloeth : BENING AIR MATAMU

YOGYA I

Memerah matamu pagi ini

Gemuruh

Getarkan hati

Jeritan pilu di gang-gang kota

Lagumu berhenti ditengah jalan

Kepala dibawah reruntuhan

Tangan-tangan menggapai puing bangunan

Keranda dari daun pintumu

Antar dipembaringan terakhir

Skj, 26 mei 2006

YOGYA II

Nyanyian indah

nyanyian pengharapan

telah gugur bersama

kepanikan kota

tumbal jaman

memakan tubuh-tubuh saudaraku

terbaring di tenda-tenda

merintih di bangsal Rumah Sakit

di depan pintumu kau berdoa

Skj, 26 mei 2006


DIKALA DATANG SENJA

Sapu tangan sekat air mengalir di ujung matamu

Rambut memutih

Kerut dahi gambar dari perjalanan

Kian lama kian pasrah

Adakah damai jiwa

Bila sekitarmu tlah mati warna

Kabur

Memudar

Tak usah lagi kau tanya?

Dalam hati yang terdalam

Ayat-ayat Tuhan mengukir dengan indah

Sanggupkah kau redam gemuruh

Derap dibalik pintu

Petikan gitar senandung nestapa

Skj, 30 Mei 2006


BENING AIR MATAMU

Bening Air matamu

Ketika kau melukis

Gambar cinta di pantai

Menunggu sunset

Butir-butir pasir putih

Menulusupkan kaki-kakimu

Bening Air matamu

Ketika kau bersenandung

Lagu cinta di gunung

Menunggu embun

Menetes dari daun

Memilih jalan menghampiri

Bening Air matamu

Ketika kau menulis

Cerita cinta di taman Eden

Adam dan Eva bercumbu

Mengalir seperti sungai Firdaus

Menuju Telaga cinta

Bening Air matamu

Mewariskan bumi

Meluruskan langkah keliru

Diantara jerit Teriakan histeris pengungsi

Gempa, banjir, badai

Mengharap pertolongan

Bening Air matamu

Skj, 30 Mei 2006


LEPAS

Diatas ketinggian beratap langit

Aku kepakan tangan

Berputar diringi angin semilir

Dibawah rimbunya pohon karet

Aku menari

Memainkan tubuh menyatu dengan alam

Hujan turun menyirami

Membelai lembut sekujur tubuhku

Air hujan

Buat bekas jejak langkah kakiku

Air hujan

Buat padiku yang mengering

Air hujan

Buat mereka yang mati sia-sia

Air hujan

Buat penguasa yang mati rasa

Air hujan

Buat ibuku yang telah habis air susunya

Air hujan

Buat anakku yang haus

Air hujan...

Ungaran, Mei 94


KUSUT

Menyambut musim yang tak lagi pada tempatnya

Meski air mata telah menghapus sebagian debu

Di wajah-wajah mereka

Lesu

Kusut

Yang menceritakan romantisme

Terkadang pikiran-pikiran picik mengumpul

Membuat gumpalan-gumpalan

Yang sangat keras

Sulit untuk dilunakkan

Semakin keras dan kuat

Hingga mendobrak nilai-nilai luhur

Yang pernah terpatri di nurani

Kudus, April 94



UNTUK GUTERES

Ketika bangun dari mimpi

Anak negeri menangis pilu

Dadanya tersayat

Tertikam belatinya sendiri

Hatinya teriris menjadi keping-keping

Tersebar meninggalkan

Ribuan bahkan jutaan pertanyaan

Sampai kapankah ini berlangsung

Hingga rasa hangat dan percaya menyelimuti

Menyatu dengan jiwa-jiwa yang hampir robek

Mereka tak kan mampu mengusir cintaku

Meski langit mulai gelap

Aku tetap menungguimu pertiwi

Ketika merah tak lagi berwarna merah

Putih tak lagi menjadi putih

Kami tetap memegangimu pertiwi

Meski tiangmu tlah kropos

Diterjang musim

Dimakan rayap

Boyolali, 150306



KERETAKU

Keretaku telah berangkat

Bawa seperangkat kata pasti

Atau mencoba titik bisu

Dari kepekatan makna

Menciptakan syair dari kelabilan malam

Bergelut angan-angan

Yang tiada ujung

Keretaku telah melaju

Meninggalkan rentetan pertanyaan

Kapan keretaku pulang ?

Keretaku berdesis

Dengan memercikan api

Dan jilatan matahari

Siap tenggelam

Dalam kepekatan warna

Hitam..

Keretaku memasuki lorong

Meraba dalam kegelapan

Semarang, Maret 94



TENGAH…TIDAK BERPIHAK

Ketika tangis tidak mampu menggambarkan keharuan

Hanya gumpalan-gumpalan kecewa yang membatu

Tampaklah serpihan-serpihan rindu yang bertebangan

Dari entah ke entah

Tak ada tempat untuk singgah

Karena angin berubah haluan

**

andai aku diberi kekuasaan untuk memutar kembali

aku akan pilih untuk tidak dilahirkan disini

aku ingin berdiri diantara dua wujud

biar aku bisa melihat pertarungan dua bentuk

hitam atau putih

menang atau kalah

maju atau mundur

manis atau pahit

***

bukannya aku ingin merusak aturan

bukannya aku merusak kodrat

tapi dimana letak yang pasti

jalan mana yang harus kulewati

sebab pertarungan sudah mengkabur

membuat bentuk dari percampuran dua wujud

dua bentuk

tengah

tak berpihak

berdiri diantara pertarungan

Terminal Terboyo, 020400


DITENGAH KERUSUHAN

Bila kebencian telah mentelikung

Amarah-amarah menguak dipermukaaan

Tak ada kata ramah di hati

Suara-suara sumbang mengurung

Membuat gerak santunmu terpatri rasa muak

Diammu semakin membuat ngilu

Tak sanggup lagi bibirku menyapa lembut

Mendung menggantung di kelopak matamu

***

Ada rasa haru menyelimuti diri

Ketika butiran bening menetes dipipimu

Mungkin sebuah perbenturan

Yang tak akan membuahkan hasil

Namun mampu membuat runtuhnya gunung

Yang tengah memuntahkan amarah

Semarang, Maret 99



KUE CINTA YANG BASI

Mencicipi kue cinta yang basi

Apakah ada sedikit sisa untuk bisa kita nikmati

Meski sedikit pahit

Bahkan mungkin beracun

Sekedar menjilat bukan ditelan

Tidak ada sedikitpun sisa untuk kita makan

Biarkan kue itu basi dan menjamur

Hilang menjadi butiran-butiran debu

Mungkin suatu waktu akan berkumpul lagi

Membentuk sebuah cinta lagi

Meski bukan kami yang menjadi koki

Bukan kami yang menyumbangkan resep

Bukan kami yang menciptalan aroma-aroma

Kesetiaan

Kesabaran

Aku kirim kue buat pertiwi

Kita belah menjadi beberapa potong

Kuenya bermacam warna

Merah tua, Merah muda

Hijau tua, Hijau muda, Hijau loreng

Kuning, Coklat

Biru tua, biru muda

Bila dikumpulkan menjadi kombinasi sempurna

Namun potongan itu tidak bisa dijadikan satu

Karena kue warna itu berbeda-beda rasa

Ada yang manis.sedikit manis, kecut, asin, pahit

Rasa telah menjadi ciri khas identitas negeri

Semarang September 2000



SLOGAN DEMONSTRAN

Slogan-slogan hanya sebagai racun

Membawa amarah

Siap menghantam

Kerinduan yang pernah kering,

terasa deras membasahi hatiku

kegelisahan yang abstrak

bagai fatamorgana

tak ada yang lenggang

tetap dalam kabut pikirannya

terbelenggu dalam resah asa tanpa muara

tenggelamkan pada dasar paling dalam

Inikah yang kita impikan

Menuju kehancuran?

Smg, 250500



KRIDOR

Dingin menyapu malam

melatari suasana sunyi

merayap...

mendekati pilar-pilar tirani

membungkam suara kritis

meninabobokan dengan dongeng manis

Kapan kami bebas berteriak lantang

bila semua dianggap lancang

kapan kami matang

bila aspirasi kami ditentang

buah pikiran dari rakyat

diaborsi oleh wakil rakyat

kami terlahir menjadi tanda tanya

budaya curiga menyodok kami

kami terlahir prematur

terbentur makna lentur

Smg, 7 April 1994



NASIB MEREKA YANG TERBUANG

Antar cerita di saku mereka

Tentang apa yang patut mereka tentang

Tertindih karpet Lusuh

Berbau angkuh

Teriak batin ungkapkan rasa penyesalan mereka

Kuras semua pikiran mereka

Lepas semua penderitaan mereka

Ternyata pahit masih lekat pada mereka

Dan..

Ternyata semua telah mati

Karena ketidak tahuan mereka

Semarang, 22 November 1992



EKSEKUSI

Kasih...

Kuingin memelukmu

Ku ingin mencium keningmu

Untuk yang terakhir kali

Sebab esok tak lihat dirimu lagi

Kasih..

Bila esok aku mati

Jangan kirimi aku dengan derai tangismu

Tersenyumlah

Ku pergi membawa keyakinanku

Jangan beri aku batu nisan

Biarlah matiku tak di kenal

Jangan kirimi aku bunga

Biarkan tubuhku membusuk..

Pati, Maret 92



DAGELAN DIUJUNG ABAD 20

Pohon Beringin daunnya berguguran

Di sundang Banteng ngamuk

Di bakar Matahari

Daun-daunya berserakan di Bumi

Sebagian terhempas di bawa angin

Sebagian singgah di Bulan-Bintang

Pohon Beringin masihkah kuat

Ataukah tumbang..

Mega-Bintang pernah mengirim badai

Menggetarkan Pohon Beringin

Adakah tentang cinta tanpa airmata

Adakah revolusi tanpa korban

Adakah reformasi membawa angin segar

Ingat sejarah!

Pergantian pimpinan dibutuhkan tumbal

Untuk memapak jaman baru!

Smg, 1999



SOMPRET YANG KAMPRET

Ada seorang anak cerewet

yang ngomongnya nyrempet-nyrempet

kadang kepepet barang-barang lengket

dasar kampret...

kini anak itu tersilet

dan akhirnya terseret

digulung karpet

kepalanya sentet

diikat karet

dasar keset..

banyak wartawan yang menjepret

karena kabarnya anak itu kena santet

dasar wartawan sompret..

kini wartawan berjaket

yang diseket

karena mencopet

dompet

kaum kuntet

kasihan kaum kuntet

sudah jadi kernet

namanya dicoret..

si ibu kaget

anaknya mati kejatuhan ceret..

ayahnya pulang bawa disket dan kaset

langkahnya yang sret..sret..

rindu anaknya yang barolet

yang sukanya makan roket

akhirnya aku terbangun setelah ditampar Raket

oleh Bu Juned

aku duduk di buffet

dasar keset...

aku menunggu didepan toilet

karena perutku kliet-kliet..

sambil makan ciklet...,

aku melihat orang berkaos singklet

di mobil starlet

oh ternyata suami Bu juned

aku bersandar di kursi yang riet-kriet

karena banyak orang yang berdiri di depan toilet

kayak sopir microlet

yang antri di loket

setelah aku mepet-mepet

sampailah giliranku ke tiolet

tiba-tiba terdengar suara pret..pret..cret..cret..

ternyata aku mencret..

aku berdoa supaya set-set

yang menggenjet

dapat dirangket

agar cornet saya kolet-kolet..busyet..

kisah anak, orang tua, aku dan keluarga Junet

terangkum dalam cerita kuartet

Kost WK 28,20 Januari 1994



MENGUAP

Ketika..

Kemarin deras rintik hujan

Melepaskan kesalnya atas negeri ini

Aku masih terdiam

Memunguti cerita

Yang disodorkan jaman

Ketika bumi meronta

Keluarkan keringat

Sehingga bau

Muncul serangga

Belalang

Nyamuk

Mereka berpesta

Mereka bernyanyi

Sementara semua orang terdiam

Menguap..!

Karena tak mampu berbuat apa-apa

Kendal, Juli 98




GUGAT!

Kapan kau memberiku pekerjaan?

Kapan kau memberiku kehidupan layak?

Episode maling

Cerita bersambung pelacuran

Tragedi penggusuran kaki lima

Cerita kriminal perampokan

Sampah harus enyah

Seperti kertas yang dikepal

Dibuang ditong sampah

Orasi-orasi di podium

Di mimbar-mimbar

Memperlacurkan ajaran-ajaran Tuhan

Para rohaniawan Bertransaksi kavlingan surga

Pengusaha berencana membangun villa-villa di surga

Rakyat dijadikan bahan bakar

Untuk penghangat ruangan surga

Kami tak punya mimpi lagi

Satu-satunya angan-anganku telah kau rampas

Apalagi yang kupunya?

Smg, 27 Des 2005



SIAPA ?

Dikaulah peradaban yang dikencingi

Dikaulah kebudayaan yang diberaki

Sepenuhnya dikau bersumpah demi kejayaan negeri

Meski melacurkan bangsamu sendiri!

Ini bukan sebuah pembebasan

Tapi bentuk pembelengguan gaya baru

Topeng...!

Topeng kemerdekaan yang menyakitkan

Kenapa mesti ada yang dikorbankan

Bukan mereka juga lahir

Dari rahim yang sama

Hadirmu untuk dicaci!

Kau adalah produk jaman yang gagal !

Cacat!

Hadirmu menjadi beban bangsamu

Engkau benalu yang harus dipangkas

Karena dikau sampah masyarakat!

Bangsa yang melantarkan masa depannya sendiri!

Oleh siapa?

Dari siapa?

Untuk siapa?

Siapa sajalah

Siapa saja berhak menikmatinya

Gratis!

Dikau mau mengalami!

Ini cerita anak negeri yang sebentar lagi mati...?

Smg, 01-01-2006




SEGITIGA

Hakim mati kepala pecah karena palunya sendiri

Jaksa mati mulutnya kesleo kebanyakan kata-kata

Pembela mati karena menjual belikan kebenaran

Mereka penegak keadilan yang mati dilindas jaman

Ada jendral mati

Dikudeta anak buahnya

Ada tentara mati bunuh diri

Ada pemimpin mati karena kebijakan yang rapuh

Ada rakyat mati karena menegak racun

Mereka korban keadilan yang mati

Dilindas jaman

Mereka telah mati

Mari kita sematkan

kembang-kembang dimakam mereka

menari di makam mereka

Smg, 24 08 03

ENTAH DIMANA?

Aku menjadi riak

Yang diantar gelombang

Aku menjadi badai

Yang diantar angin

Di pantai ini aku merapat

Terlena lagi

Tenggelam dalam mimpi

Ingin ku mencipta lagi

Malam-malam panjang

Dalam kegelapan

Aku mencoba menulis syair-syair

Menyambut kedatanganmu

Atau melepas kepergianmu

Sk. 13890




KINI KAU?

Tersiksa

Tertikam rasa ingin

Di matamu cerminkan rindu

Butiran bening dipipimu

Getar asmara menjadi beban di hati

Untuk dilepaskan satu-satu

hilang

sirna

musnah

Tinggalkan saja ditengah jalan

Kini kau

Melagukan sendu

Menyayat kalbu

Meski Bertaburan bintang

Gemerlap lampu-lampu kota

Sepi masih mengurungmu

Sk. 13890



BISAKAH YANG KALAH HARUS MENANG

Di layar kaca

Kau berbicara paling berhak

Di mimbar kau tanami kecurigaan

Di podium kau suguhkan kelicikan

cerita wayang mbeling

yang memenangkan kebatilan

mempahlawankan pengkhianat

kebenaran harus runtuh

Haruskah Pandawa kalah?

Membiarkan kurawa menang dalam Bratayuda

Kau rampas

kau kebiri cita-cita

mereka-reka sejarah

membutakan yang jelas

membekokan yang lurus

memanen kekayaan negeri

sambil memberi mimpi

tentang kemakmuran

Halilintar menggelegar

Seperti cemeti

Mencabuk punggung negeri

Ajakan Dalang mbilung yang kau pakemkan

Ngudar Sabda plintir

sebagai tameng dari ketakutanmu

Membisikan Keresahan

Atas kebingungan negeri

Kau pun menghilang

Tinggalkan Puing-puing

Kekacauan perang saudara

Haruskah Pandawa kalah?

Membiarkan kurawa menang dalam Bratayuda

Bisakah yang kalah harus menang

Pati, 190806

Jumat, 30 Januari 2009

Aloeth : BURUNG BANGKAI

BURUNG BANGKAI

(Noer Lutfi)

Kemarin burung bangkai

Berebut tulang-tulang kehidupan

Matahari menatap nanar sudut kota

Meneriakan suara

gemuruh

Menggulung seperti gelombang

Ada kebekuan Menekan

*

Hari ini burung bangkai

Berebut iga-iga masa lalu

Mendung menghadang matahari

Ada janji mengkristal di atas ranting

**

Esok burung bangkai

Mencuri telur-telur kehidupan

Membius impian semu

Bertransaksi kesepian

Mendulang kesunyian rasa pesimis.

Smg, 12 Mei 1994


PAK TUA DAN STICK GOLF

(Noer Lutfi)

Temaram lampu teplok dari gubug reot

Menjadi saksi tangis

Menjadi saksi teriakan histeris

Menjadi saksi suara-suara sumbang yang tak beraturan

Tendangan sepatu aparat mengenai ulu hati

Pukulan pak camat membirukan mata kiri

Tamparan muspika membuat dua gigi rontok

Segenggam tembakau dari puluhan putung rokok

Lintingan tersulut

Mengepul asap dari mulutnya

Menatap bintang jasa sisa revolusi

***

kenangan terlintas

padi menguning siap di panen

istri setia menunggu digubug

membawa kendi dan bakul nasi

dua anaknya berlari-lari dipematang

menirukan burung alap-alap

melayang dilangit biru

****

Demi pembangunan atas negeri ini

ia rela menjadi badut

mempropagandakan kemakmuran

adil dan merata

stick golf gantikan cangkul

terseok-seok memukul bola

terkapar ia ditanah

nafasnya hampir putus

dari mulutnya keluar dua bola putih

Smg, Agustus 1994


SERDADU TUA

(Noer Lutfi)

Serdadu tua bungkuk

menerawang langit

Seperti mata panah

Meluncur lembaran-lembaran usang

Ikrar penuhi ruangan kenduri

Pesta anak negeri pertanyakan

Kemerdekaan dibangunkan

untuk kedua kalinya

dari belenggu mimpi menyesatkan

Sebotol arak menepis dahaga

Tawa genit pelacur menempel dibenak

***

Serdadu tua bungkuk

Kepalkan tangan ke atas

Hirup sisa nafas keperkasaan

Kenangan tak meninggalkan kafan

Untuk dilukis kerabatnya

Menelusuri jejak-jejak kaki

Yang Terhapus air hujan

Cermin retak

Wajah Bopeng membuat batik

Catatan-catatan pengkhianatan

dari kegetiran nasib

***

Serdadu Tua menggelinding

Dari atas menuju lembah

Berputar menerjang ilalang

Melindas pohon hingga tumbang

Menghancurkan batu karang

Membelah gunung-gunung

Menguras samudra

Kini tlah lahir fiksi

Dari embrio hidup

Yang mereka puja

Sebagai hikayat ampuh sekelas mantra

Mereka lalai kebenaran

Yang kelak diwariskan

****

Serdadu tua berharap

menatap matahari di atas pelangi

ada cinta ditebarkan mendung

lewat rintik hujan

cinta berhembus dikolong jembatan

menemui anak kecil kelaparan

cinta menyapa aparat dengan bogem mentah

di muka maling kecil

cinta membelai hakim pincang

tersrimpung palu sendiri

cinta berbisik ditelinga ibu tua

“kamu tak secantik dulu”

cinta meniup di tempat pelacuran

bersama desah nakal

cinta masuk dipori-pori anak bangsa

kibarkan sang saka di langit biru

meski tlah kusam dan robek

ada cinta bersama kibasan-kibasanya.

10 November 1994


LAGU LUGU BERLAGU

(Noer Lutfi)

Na..na..na..

Rasa saling se-iya sekata

Takkan lagi ada

Harapan Serumpun

saling memiliki sirna

Inikah kematangan diri

atau globalisasi dini

ego berkata hak

bernyanyi demokrasi

Na..na..na..

Di bumi para bidadari turun

berdemo telanjangkan diri

ini dada ranum yang disajikan surga

reguklah cawan ini

anggur dari sungai nirwana

sang dewa pun tanggalkan syahwat

di pagar-pagar pinggir jalan

lindung teduh di pohon Quldi

Na...na..na...

Masuklah ! Pintu kubuka lebar

inilah jalan keselamatan

mengajilah pada kejujuran hidup

renungkan ketulusan bola mata anakmu

sangsikan kebenaran

Na.. na..na..

bisakah kita duduk disini bersama

bincang esok

tentang anakmu

anakku

anak-anak kita

Skj 160505


DER LETZTE

(Noer Lutfi)

Mereka genggam bara

Di berikan padamu

Berjanji bukan menghakimi

hilang untuk diyakini

ada untuk didustai

Apakah terbukti lagumu

Menyentuh mereka

Nyanyian mereka

memekakkan telingamu

mereka paham betul keinginanmu

apakah sudah kau pahami

keinginan mereka.

**

Ketika pesta dirayakan

Kau rampas suara-suara mereka

Kau lontarkan menjadi peluru-peluru tajam

Setelah pesta usai

Kau lupakan suara-suara mereka

Kau jadikan peluru-peluru tumpul

tak mampu menembus

Angka-angka keberuntungan

***

Tiang-tiang itu mengantung

Bergesek

Bersentuhan

Hasilkan bunyi

mereka datangi mimpi-mimpimu

mereka cabuti bulu-bulumu

Smg, 040605


LANDUNG

(Noer Lutfi)

Musim orang sakit

Tersakiti

Nyanyian surga kunci telinga

terjang kelam

Rindang pohon jalang

Tumbang

Mereka Yang sehat

Bertanya pada yang merintih

Yang gila

Menertawai yang waras

Yang isi

Mengharapkan yang alpa

Yang sadar

Menginginkan terlena

***

Yang musnah

Yang punah

Yang lenyap

Yang senyap

Berdiri pada fajar

Diam

Sempit

Menelusup rona merah langit

Menyambut kau kembali

Menikmati lazuardi

Untuk Ber-Aku-aku lagi..

Kau reguk habis doa-doa

Atau bermeditasi menantang matahari

Skj140503



REDGLASS

(Noer Lutfi)

Roh kebebasan

Membelai pucuk-pucuk ilalang

Hentakan tarian cinta

Dendangkan pujian semesta

Ayolah melanting

Tembuslah langit biru

Duduklah disinggasananya

Iblis bernyanyi untukmu

Setan-setan menari

Orasi-orasi dipelacurkan

Berita TV, radio, koran-koran, dipelacurkan

Diskusi, seminar, rapat-rapat dipelacurkan

Ayat-ayat dipelacurkan

Agama dipelacurkan

Apalagi yang bisa dipelacurkan?

***

Pinjamkan kedua tanganmu

Pinjamkan kedua bola matamu

Pinjamkan kedua telingamu

Pinjamkan hidung dan mulutmu

Pinjamkan hatimu

Untuk melihat lampu-lampu zaman

Sentuhlah paling dalam

Rahasia ?

Rahasia Tuhan tlah dicuri

Ada yang menyekutukan Tuhan

Membangun tembok-tembok kekuasaan

Mengatur

Meramal nasib sahabatku

Skj, 140503



MAAF KAMI

(Noer Lutfi)

Tangis kesedihan

pernah diratapi Alexandrian Callimachus

pada jiwa-jiwa resah

Sampaikan maaf kami

Tak meneruskan nafasmu

Usia menggrogoti fisik

Tergambar dibenak

Wajah-wajah manis dirias tangis

Pralambang kembang hati dibejana romantis

Wajah-wajah sendu terbelenggu kata ragu

Coba ungkap rindu

Wajah-wajah kaku

Mirip kardus

Kadang mirip kaleng

Masuk dilini pertahanan

Berebut

Singkirkan

Wajah-wajah hipokrit

gunakan ambiguitas tak jelas

Hingga mata kami tak sanggup

Mengenali diri kami sendiri

Kemurungan jiwa

Tlah memusatkan kematian

Smg Januari 1998

OPERA TANDING #1

(Noer Lutfi)

Gelombang dasyat menghantam

Menggulung setiap sisi

Kikis ruang-ruang

Racuni soneta

Meletakan okestra di gudang tua

Dimana dikau nurani?

Masih singgahkah kau?

Atau dikau lari

Bersembunyi

Hindari tikaman suara-suara sumbang

***

Lubang terbuka

Alunan heroik bakar sukma

Menanti mangsa Siap disantap

Jeruji besi rapikan barisan

Membuat kalangan

Kekuatan beradu

Saling menjatuhkan

Mereka mati sia-sia

Ini rimba liar

Arena penjagalan massal

Kuasa didewakan

Kejujuran mulut-mulut pendusta

September 2002


OPERA TANDING #2

(Noer Lutfi)

Suara Bising Menyayat

Membuat luka bernanah

Gumpal aniaya

Ketidakberdayaan

Memutuskan urat nadi

Tak mampu lafalkan abjad negeri sendiri

Mau mereka bawa kemanakah negeri ini?

Hingga terlempar jauh

Terdampar di pulau buta tuli bisu

***

Nyaringkan nyali

hentakan irama apa saja

mengiringi ritual

tak menyodok mereka dipihak mana?

Kita bernyanyi anak negeri

September 2002



KIDUNG KINANTI 99

(Noer Lutfi)

Ora ono kang biso agawe tentrem ing ati

Kajobo yen siro biso manembah

Marang Gusti kang murbehing dumadi

Koyo dene wayangane

Rembulan ing wanci purnomo sidi

Kang katon ing sak jeroning

Banyu menep kang wening

(khoyun..khoyuning seto..khoyuning Qolbun 3x)

Pekat..

Langit bawa mendung berarak

Bintang enggan bercengkrama

Rintik jatuh basah tanahku

Ada apa malam?

Lelahkah?

Angin menusuk pada ruang-ruang kalbu..

Jauh..!

berhembus di samudra cinta

Bidadari menari balet disinggasana rembulan

Meliuk-liuk

Hingga raja dan ratu bersemayam

Dipelaminan jiwa

Seruling malam cipta hening

Ijinkan kami terbang melintas

Menunggu fajar tiba…

Smg, 010199


AKU TAHU

(Noer Lutfi)

Aku tahu

Peluru tlah menembus

Membuat lubang menganga

Luka !

Perih !

Pada kesaksian mentari

kabarkan cerita mati

Hitam-putih

Gelombang meneriakan kebebasan

Meskipun angin murung

Tak mampu bercerita lagi

Anak bangsa tersudut lesu

Terpleset dari gerbong

antarkan mimpi warna pelangi

Tersesat di rimba

Meloncat-loncat

Memetik buah

dari perjalanan sejarah bangsa

***

Aku tahu

Peluru tlah menembus

Membuat lubang menganga

Luka !

Perih !

Dewi langit tlah usai menangis

Mengguyur sayatan

Semakin perih

Pertiwi tak lagi bersenandung

Tembangkan kidung

Bangunkan pagi

atau

Menidurkan malam

Membisu

Terdengar derap langkah

Sepatu-sepatu boots

Menghantam

Menendang

Membuat gerimis

Dari tangis teraniaya

seperti irama menjemput kematian

***

Laras senapan memberi komando

intruksi

Robohkan

Injak

Dan lupakan

Berpadu teriakan-teriakan

Yang memilukan

Aku tahu

Peluru tlah menembus

Membuat lubang menganga

Luka !

Perih !

Skj,190804


DAUN KAMI

(Noer Lutfi)

Ketika angin berhembus

Menyibak dedaunan

Tembang Mistik dilantunkan memilu

Menepilah…

Aku mau lewat

biarkan kami melayang

Menembus…lubang-lubang untuk bernafas

Sebab kami terperangkap di ruang hampa

Bergoyanglah daunku

Biarkan yang rontok bercerita

Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau

Meski kini kering tak memberi sejuk

Tapi pernah menggores catatan

pada batangmu yang mulai rapuh

***

benih-benih yang aku sebarkan

mulai tumbuh menjadi tunas-tunas

siap menerjang pilar-pilar yang menghadang

biarkan akar itu menjalar

di sisi ruas-ruas jalan

di sudut-sudut kota..

biarkan kami yang bicara..

biarkan kami yang mengantarmu

untuk menemui mentari..

di nafasmu terletak martabat bangsa

tarik

hembuskan sesuai irama yang bergulir

ikuti hentakan jaman

Smg, Januari 1998


SORE ITU….

(Noer Lutfi)

Sore itu hujan belum reda

Bocah kecil bertopang dagu

Kerempeng bertelanjang dada

Rambutnya basah Menahan lapar

Berlari merebut tas hitam milik Nyonya gendut

Copet..copet..” kening bocah berdarah dihantam massa

Sang nyonya menghardik

Dipukuli bocah itu dengan sandal kulit

Yang harganya sama dengan dua kali nyawa maling kecil

Sang nyonya jengkel

Diinjak tangannya dengan tumit sandal kulit

Yang harganya sama dengan samudra tangis maling kecil

Sang nyonya semakin kalap

Ditendang perut dengan pucuk sandal kulit

Yang harganya sama dengan rintih lapar maling kecil

Bocah itu terkapar lemas

Mulutnya tersumpal dua puluh ribuan

Selamat Sore Tuhan” cerita telah berlangsung

sepotong doa terselip dimulutnya

Ia tulis surat dihati buat Tuhan

Aku ingin bertanya pada-Mu Tuhan? Aku terlahir hanya sebagai pelengkap saja. Aku dijadikan yang selalu serba salah dan kalah. Dimanakah Dikau Tuhanku? Inikah keadilanMu Tuhan?

Kenapa aku harus memiliki rasa? Kenapa Dikau tak membelaku?”

***

Bocah kecil itu mati

Didekat tong sampah halte Bus

Sementara Kota dan lalu lalangnya

Melanjutkan cerita

Sore itu hujan belum reda

Smg, Mei 1994




TRANSISI

(Noer Lutfi)

Tumbuh kembang bakung menghias sudut ruang senja itu

terbaring tubuhmu luluhkan batin di keheningan waktu

terlepas benih iba saat menatap garis-garis diwajahmu

tergores pahit luka masa lalu

langkahmu pelan tak setegar dahulu

kini hanya namamu dan sepotong dongeng

dari hari-hari lalumu

***

Bintangmu terasa berat membawa beban hidup

Terbelenggu dalam diam

Tenggelam bersama tumbuhnya tunas baru

Kematian adalah pembebasan

Dimana lingkaran itu mulai pecah?

Entahlah?

Kudus, April 1994




ANGSANA DIRI SOCA

(Noer Lutfi)

Biarkan aku lebur di warna semu

Biarkan aku hancur bersama kehangatan nafasku

Biarkan aku berteriak dengan pikiranku

Biarkan aku menari dengan mulutku

Biarkan aku mencium dengan mataku

Biarkan aku menatap dengan hidungku

Dan biarkan aku apa saja dengan aku-ku sendiri

Aku biarkan angan liar menjilat-jilat ruang dan waktu

Meski darahku keluar dari mataku

Meski ingusku keluar dari mataku

Meski maniku keluar dari mataku

Meski curekku keluar dari mataku

Meski taiku keluar dari mataku

Biar aku bebas melayang

Smg, Desember 1997




DUKA LUKA-LUKA

(Noer Lutfi)

Masih banyak luka yang harus disembuhkan

Luka kita semakin membusuk

Tertutup kulit yang mengering

Luka kita membiru

Menunggu suatu ledakan

Memporak-porandakan mimpi anak negeri

Luka mengurungmu pertiwi

***

haruskah luka itu aku belah

atau aku lubangi

jangan!

Lebih baik kita bungkam

Biar tidak terdengar nyaring

Menunggu sampai sakit mereda

Menunggu tabib mujarab datang

Menunggu sampai keajaiban menyapamu

***

Bunda sekarang…

Engkau hanya bisa menangisi nasib

Karena perjalanan yang salah

Pijakan yang rapuh

Tak sanggup engkau bersenandung

Tentang eloknya negerimu

Tentang ramah tamah penghunimu

Gemah ripah loh jinawi

Toto tentrem kerto raharjo

Masihkah rayuan pulau kelapamu melambai-lambai

Masihkah dari Sabang sampai Mauroke berjajar pulau-pulau

Masihkah negerimu bagai mutiara mutumanikam

Apakah tunas bangsa muncul bagai jamur dimusim hujan

Atau semakin hanyut terbawa banjir

***

Dengar…

Dengarkan…

Dengarkan sebentar…

Mereka benyanyi atas nama cinta

Mereka bersenandung atas nama kebersamaan

Mereka menembangkan atas nama penderitaan negeri

Bodoh!

Kata siapa?

Mereka mencintai atas nama posisi pribadi

Mereka bersatu karena kepentingan diri yang dimainkan

Mereka menderita atas persamaan nasib

Ya, mereka hanya ingin tahu nasib baiknya sampai dimana?

***

Bunda..

Senandungmu tak mampu jebolkan gendang telinganya

Bahkan mereka tertidur pulas

Menanti esok dengan lagu-lagu yang sama

Sebenarnya ini salah siapa?

Siapa yang curang ?

Siapa yang khianat?

Ya, akhirnya kita akan terus bertanya

Kenapa kita biarkan luka itu membusuk

Smg, 200598




DARI SEBUAH DONGENG

(Noer Lutfi)

“ Tak..lelo..lelo..lelole gung

putraku sing bagus dewe

mbesuk gade dadi o wong guno

mbangun negoro tujuan mulyo”

masih terdengar irama gending dalam mimpiku

masih tercium wangi bau tanahku

masih bertalu lesung padi ibuku

Diberanda sore menunggu purnama

Bapakku bertutur

Syair-syair

Legenda-legenda

Hikayat-hikayat

Cerita panji

bersama kita menembangkan “Padang Bulan”

kidung yang pernah menjaga malam

dari ancaman Bebendu

murkanya Bethoro Kolo

bersama kita pernah menghitung pagi

terik matahari diufuk timur

kicauan burung

gemercik air dari pancuran bambo

sekarang…

pupukku dirampok ditengah jalan

tengkulak merampas padiku

bandit berdasi merebut sejengkal tanahku

Hutanku gundul

Polusi Udaraku

Sungaiku tercemar

pejuang-pejuang kafir

menakar dan menimbang jasa

sebagai jaminan mengelak tudingan

“mereka berjuang atas nama rakyat”

Bohong!!

Pendusta!!

Penipu!!

Kembalikan surgaku yang kau curi

Kembalikan alamku seperti dulu

Disini bukan arena debat persoalkan salah siapa?

Disini tempat kami

Kami butuh bukti nyata bukan janji

April 1994


TANGAN-TANGAN MUNGIL

(Noer Lutfi)

Sampai dimanakah kita ini

Jauh..sangat jauh untuk menepi

Pada tangan-tangan mungil

Aku sampaikan salamku

Menangkap kembang dirgahayu

Yang berkurang makna

Penghormatan jasa pejuang

yang sia-sia

kekerasan

penghianatan

pemerkosaan hak

menjadi dominasi hitam dibenakmu

warna pelangi memudar

kau biarkan hatimu berkecamuk

Sampai dimanakah kita ini

Jauh..sangat jauh untuk menepi

Pada tangan-tangan mungil

Aku sampaikan salamku

Biarkan mereka melukis hari esok

Dengan warna-warna yang mereka sukai

Aku berharap

Kebencian bukan milik mereka

Dendam bukan rasa mereka

Kedengkian bukan sifat mereka

Bukan perbedaan yang dibanggakan

Tapi keanggunan rasa mengerti

Bukan orasi yang meracuni

Tapi pencapaian nurani untuk saling menghargai

Biarkan mereka merapat senandung negeri

Biarkan mereka berjanji padamu negeri

Sampai dimanakah kita ini

Jauh..sangat jauh untuk menepi

Pada tangan-tangan mungil

Aku sampaikan salamku

Trilyunan hasil bumi menguap

Terbawa angin perubahan

Mengenyangkan segelintir

Bukti rakyat ini makmur

Bukan..bukan itu ukuran negeri

Itu kalkulasi dari rincian otak kotor

Menyulap kusam menjadi kemilau

Yang memilaukan

Membuat mata kita perih

Sakit..

Sampai dimanakah kita ini

Jauh..sangat jauh untuk menepi

Pada tangan-tangan mungil

Aku sampaikan salamku

Smg, 180801




TIDAK LAYAK DISIMAK

(Noer Lutfi)

Status aku mainkan dalam panggung jaman

Pondasi mengenal

dan memiliki

Tetapi itu bukan ukuran mutlak

Sebab….

kita terjebak pernyataan-pernyataan

Yang menggiring

Menjadi produk

Dari doktrin-doktrin kuno

Yang seharusnya tidak lagi diperdengarkan

Atau dilihat

***

Ongkos mengenang terlalu mahal

Hanya meninggalkan rasa haru

Tak mampu menghadirkan kembali

Gelora masa lalu

Aku kirimi rangkaian bunga

Atas wafatnya

Pergerakan

Keranda hitam untukmu!

Pati, 140305